Rabu, 27 Maret 2013

TUGAS LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN (FINANCIAL WORLD FLOW)

NAMA             : ACHMAD ROMADHONI
KELAS            : 3EA17
NPM                : 10210090
MATKUL        : KOM.LEMBAGA KEU.PERBANKAN
DOSEN           : PRIHANTORO






FINANCIAL WORLD FLOW
Sumber Dana Bank

Pengertian sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana dari masyarakat perolehan ini tergantung pada bank itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Pemilihan sumber dana akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung.oleh karena itu pemiliha sumber dana harus dilakukan secara tepat.

Secara garis besar sumber dana bank dapat di peroleh dari:
a) Dari bank itu sendiri
b) Dari masyarakat luas
c) Dan dari lembaga lainnya

1. Jenis Sumber Dana

a) Dana yang bersumber dari bank itu sendiri

Perolehan dana dari sumber bank itu sendiri (modal sendiri) maksudnya adalah dana yang diperoleh dari dana bank salah satu jenis dana yang bersumber dari bank itu sendiri adalah modal setor dari para pemegang saham. Dana sendiri adalah dana yang berasal dari para pemegang saham bank atau pemilik saham.

Adapun pencarian dana yang bersumber dari bank itu sendiri terdiri dari:

1. Setoran modal dari pemegang saham yaitu merupakan modal dari para pemegang saham lama atau pemgang saham yang baru. Dana yang disetor secara efektif oleh para pemegang saham pada waktu bank berdiri. Pada umumnya modal setoran pertama dari pemilik bank sebagian digunakan untuk sarana perkantoran, pengadaan peralatan kantor dan promosi untuk menarik minat masyarakat.

2. Cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun di cadangkan oleh bank dan sementara waktu belum digunakan. Cadangan laba yaitu sebagian dari laba bank yang disisihkan dalam bentuk cadangan modal dan cadangan lainnya yang akan dipergunakan untuk menutupi timbulnya resiko di kemudian hari. Cadangan ini dapat diperbesar apabila bagian untuk cadangan tersebut ditingkatkan atau bank mampu meningkatkan labanya.

3. Laba bank yang belum di bagi, merupakan laba tahun berjalan tapi belum dibagikan kepada para pemegang saham.

Semakin besar modal yang dimiliki oleh suatu bank, berarti kepercayaan masyarakat bertambah baik dan bank tersebut akan diakui oleh bank-bank lain baik di dalam maupun di luar negeri sebagai bank yang posisinya kuat.

b) Dana yang bersumber dari masyarakat luas

Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Adapun Dana masyarakat adalah dana-dana yang berasal dari masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan menggunakan berbagai instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank.

Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan tiga macam jenis simpanan (rekening). Masing-masing jenis simpanan memiliki keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam menyiasati pemilihan sumber dana. Sumber dana yang dimaksud adalah:

1. Simpanan giro
2. Simpanan tabungan
3. Simpanan deposito.

c) Dana yang bersumber dari lembaga lain

Dalam praktiknya sumber dana ini merupakan tambahan jika bank mengalami kesulitan dalam pencarian sumber dana sendiri dan masyarakat. Dana yang diperoleh dari sumber ini digunakan untuk membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu. Perolehan dana dari sumber ini antara lain dapat diperoleh dari:

1. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), merupakan kredit yang diberikan bank Indonesia kepda bnk-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Kredit likuiditas ini juga diberikan kepada pembiayaan sektor-sektor usaha tertentu.

2. Pinjaman antar bank (Call Money). Biasanya pinjaman ini di berikan kepada bank-bank yang mengalami kalah kliring di dalam lembaga kliring dan tidak mampu untuk membayar kekalahannya. Pinjaman ini bersifat jangka pendek dengan bunga yang relative tinggi jika dibandingkan dengan pinjaman lainnya.

3. Pinjaman dari bank-bank luar negeri. Merupakan pinjaman yang diperoleh oleh perbankan dari pihak luar negeri.

4. Surat berharga pasar uang (SBPU). Dalam hal ini pihak perbankan menerbitkan SPBU kemudian diperjual belikan kepada pihak yang berminat, baik perusahaan keuangan maupun nonkeuangan. SPBU diterbitkan dan ditawarkan dengan tingkat suku bunga sehingga masyarakat tertarik untuk membelinya.

2. Konsep Perhitungan Biaya Sumber Dana

Sebagai sebuah lembaga intermediasi keuangan, mekanisme dasar bank syariah adalah menerima deposito dari pemilik modal (depositor) pada sisi liability-nya (kewajiban) untuk kemudian menawarkan pembiayaan kepada investor pada sisi asetnya, dengan pola atau skema pembiayaan yang sesuai dengan syariat Islam. Pada sisi kewajiban, terdapat dua kategori utama, yaitu interest-free current and saving accounts dan investment accounts yang berdasarkan pada prinsip PLS (Profit and Loss Sharing) antara pihak bank dengan pihak depositor. Sedangkan pada sisi aset, yang termasuk didalamnya adalah segala bentuk pola pembiayaan yang bebas riba dan sesuai standar syariah, seperti mudarabah, musyarakah, istisna, salam, dan lain-lain.

Manajemen bank harus memperhitungkan seluruh biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan mobilisasi sumber dana dengan cermat dan akurat, ada beberapa biaya yang harus diperhitungkan bank dalam menjalankan usahanya.

Maksud dari Financial World Flow sendiri adalah
Aliran Keuangan Dunia,maksudnya bagaimana di dunia ini,perputaran keuangannya,darimana uang itu berasal,kepada siapa,dan digunakan untuk apa,lalu kembali lagi ke awal,dengan kata lain disebut Perputaran.

Sekarang kita ambil contoh,dimisalkan A sebagai masyarakat surplus,B sebagai masyarakat minus,dan BANK digunakan sebagai perantara disini antara si A dan si B.Didalam dunia perbankan,bagaimana dikatakan Bank tersebut bisa hidup adalah dimana sirkullasi uang yang ada didalamnya itu berputar dengan baik,misalkan,jika Bank tersebut bisa memberikan kredit (pinjaman),maka Bank tersebut harus juga mencari pemasukan uang dari para nasabahnya,untuk di pinjamkan kepada yang membutuhkan tadi.Makadari itu biasanya di dunia Perbankan terdapat dua jenis Funding and Landing,Funding bermaskud dengan MENCARI,Landing bermaksud MEMBERI.

Dalam contoh di atas,Si A adalah si penyimpan uang terhadap Bank,atau kita bisa sebut sebagai Deposit,Deposit sendiri terbagi tiga:Saving Deposit (Tabungan),Demand Deposit (Giro),Time Deposit (Deposito).Peran Bank sendiri adalah perantara keuangan.Sekarang untuk A terhadap Bank sudah selesai,dari sini Bank sebagai perantara,bisa meminjamkan (memberi kredit) kepada yang butuh tadi masyarakat minus,nah uangnya tadi,didapat dari Si A yang menyimpan uangnya kepada Bank.Jadi semuanya saling ketergantungan,tidak mungkin pihak Bank selalu memberikan kredit,bila tidak ada uang yang disimpan di Bank tadi oleh Si A,atau tidak mungkin pihak Bank hanya menerima saja dari si A,jika tidak digunakan untuk pemberian kredit atau yang lainnya.

Biasanya Pihak Bank memberikan kredit kepada yang membutuhkan,juga bekerja sama dengan pihak Asuransi.Asuransi disini bersifat sebagai penangung,jika terjadi apa-apa terhadap si peminjam kredit tadi.Dengan diberikan sekian persen bunga/harus melebihkan pembayaran perbulannya,untuk si Asuransi tadi,sesuai besar pinjamannya.Jadi bila terjadi apa-apa terhadap si peminjam,meninggal dunia misalnya,pihak asuransi dapat membayarkan kewajiban si peminjam kredit yang meninggal tadi,sesuai yang dijanjikan sebelumnya,atau bahkan lunas.

Jika jumlah yang dipinjam adalah "Besar" ,pihak asuransi bisa saja meng-asuransikan lagi kepada asuransi lain,maksudnya pihak asuransi tersebut bisa mengCover sekian persen dari yang di asuransikan sebelumnya,Hal ini biasa disebut REASURANSI.

REASURANSI terjadi biasanya karena yang dipinjamkan sebelumnya terlalu besar,jadi pihak asuransi awal meminta bantuan sebagian untuk mengcover sebahagian persen.Ada lagi yang dinamakan RETROCESSI,ini bisa dibilang asuransi yang "Paling",jadi meng-Asuransikan,lalu meng-Asuransikan kembali.Retrocessi ini cuma ada diluar negri,perusahan ini biasanya dibutuhkan pada saat jumlah yg dipinjam terlalu besar,jadi antara Asuransi 1 dan Asuransi lainnya melakukan penjaminan double ulang.
Begitulah sirkulasinya di dunia ini,higga kembali kepada pihak awal tadi,Si Pemberi,Perantara Keuangan,dan Peminjam.

Yang terakhir,ada catatan kecil disini,bahwa,pihak Bank atau di dunia perbankan sendiri biasanya mencanangkan yang seperti ini "LAW OF THE LARGE NUMBER" yang artinya "Lebih baik ada 10 orang yang menabung satu juta,dibandingkan 1 0rang yang menabung sepuluh juta",karena jumlah Nasabah sangat berpengaruh bagi Bank (perantara) untuk kelangsungan Aliran Keuangan tersebut.
1. Obligasi = hutang / utang jangka panjang secara tertulis dalam kontrak surat obligasi yang dilakukan oleh pihak berhutang yang wajib membayar hutangnya disertai bunga (penerbit obligasi) dan pihak yang menerima pembayaran atau piutang yang dimilikinya beserta bunga (pemegang obligasi) yang pada umumnya tanpa menjaminkan suatu aktiva.
2.  Deviden = pembagian laba kepada pemegang sahamberdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dankas yang tersedia bagi perusahaan, tapi distribusi keuntungan kepada para pemilik memang adalah tujuan utama suatu bisnis.
Dividen dapat dibagi menjadi tiga jenis:
  1. Dividen tunai; metode paling umum untuk pembagian keuntungan. Dibayarkan dalam bentuk tunai dan dikenai pajak pada tahun pengeluarannya.
  2. Dividen saham; cukup umum dilakukan dan dibayarkan dalam bentuk saham tambahan, biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham yang dimiliki. Contohnya, setiap 100 saham yang dimiliki, dibagikan 5 saham tambahan. Metode ini mirip dengan stock split karena dilakukan dengan cara menambah jumlah saham sambil mengurangi nilai tiap saham sehingga tidak mengubah kapitalisasi pasar.
  3. Dividen properti; dibayarkan dalam bentuk aset. Pembagian dividen dengan cara ini jarang dilakukan.
  4. Dividen interim; dibagikan sebelum tahun buku Perseroan berakhir.
3.      Capital Gain = keuntungan yang diperoleh pemegang saham, ketika menjual sahamnya atau dengan kata lain selisih antara harga jual dengan harga beli. Sebagai contoh , anda membeli saham dengan harga katakanlah 1000 rupiah per lembar, selanjutnya anda menjual saham tersebut dengan harga 1400 rupiah per lembar, maka capital gain yang
Anda dapat adalah 400 rupiah pada dasarnya, ada dua jenis capital gain:jangka pendek dan jangka panjang, capital gain jangnka panjang diperoleh bila anda menjual kurang dari setahun, capital gain jangka pendek diperoleh bila anda menjual saham  lebih dari satu tahun.
4.       Capital loss = 1. Capital Loss merupakan kebalikan dari capital gain yaitu suatu kondisi dimana Anda menjual saham yang Anda miliki dibawah harga belinya. Misalnya saham PT.Unilever Anda beli dengan harga Rp.2.500, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp.1.900 persaham.Akibat takut harga saham tersebut akan terus turun, maka Anda kemudian menjual pada harga tersebut sehingga Anda mengalami kerugian sebesar Rp.600 per saham. Itulah capital loss  yang menimpa Anda.
5.       Resiko Likuiditas yaitu ketika perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkut oleh lembaga yang berwenang seperti pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam kasus seperti ini hak klaim dari pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir tentu setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi dari hasil penjualan kekayaan perusahaan. Jika masih ada sisanya, itulah yang akan dibaga kepada seluruh pemegang saham secara proporsional.Inilah resiko dari orang yang berinvestasi di pasar modal. Karenanya si investor diharuskan untuk selalu mengamati perkembangan perusahaan-perusahaan yang si investor miliki sahamnya
6.       Transfer of risk Dalam perdagangan internasional, risiko bahwa transaksi tidak dapat dilakukan karena pemerintah atau bank sentral tidak akan membiarkan mata untuk meninggalkan suatu negara. Misalnya, pemerintah secara teoritis dapat menyatakan bahwa mata uangnya ditukar, pelarangan transaksi. Atau, pemerintah mungkin merestrukturisasi utang nasional pelayanan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi transfer mata uang luar negeri.
7.       Reasuransi istilah yang digunakan saat satu perusahaan asuransi melindungi dirinya terhadap resiko asuransi dengan memanfaatkan jasa dari perusahaan asuransi lain
8.       Retrosesi adalah Pelimpahan risiko dari perusahaan reasuransi kepada perusahaan reasuransi lain
9.       Perbedaan reasuransi dan retrosesi
Perebedaan yang sangat signifikan dalam reasuransi dan retrosesi adalah , reasuransi melakukan pelimpahan resiko perusahaan suransi dirinya kepada perusahaan lain , kalau retrosesi melakukan pelimpahan resiko perusahaan reasuransi kepada reasuransi. Dalam hal ini, reasuransi objeknya adalah perusahaan asuransi namun retrosesi yang dijadikan obvjek baik yang dijadikan yang asuransi maupun perusahaan adalah perusahaan reasuransi.

10.      Mekanisme Kerja Reasuransi
Mekanisme kerja Reasuransi dan Retrosesi memperhatikan beberapa prinsip diantaranya adalah :
  1. memperbesar kapasitas akseptasi
  2. menciptakan stabilitas keuangan
  3. meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan rasa ketentraman hati
  4. memberikan perlindungan atas risiko katastopis
  5. melakukan penyebaran resiko
  6. memenuhi peraturan perundangan
11.     Pasar modal = tempat perusahaan mencari dana segar untuk mengingkatkan kegiatan bisnis sehingga dapat mencetak lebih banyak keuntungan. Dana segar yang ada di pasar modal berasal dari masyarakat yang disebut juga sebagai investor. Para investor melakukan berbagai tehnik analisis dalam menentukan investasi di mana semakin tinggi kemungkinan suatu perusahaan menghasilkan laba dan semakin kecil resiko yang dihadapi maka semakin tinggi pula permintaan investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.
12.     KREDIT =penyediaan uang atau tagihan atau dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara pihak Bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan sejumlah imbalan berupa bunga atau pembagian hasil keuntungan.
TUJUAN KREDIT:
1.    untuk mencari keuntungan bagi bank/kredetur, berupa pembelian bunga,imbalan, biaya administrasi provisi dan biaya-biaya lainya yang di bebankan kepada debitur
2.  untuk meningkatkan usaha nasabah debitur,bahwa dengan adanya pemberian kredit berupa pemberian kredit investasi atau kredit modal kerja bagi debitur, diharapkan dapat meningkatkan usahanya
3.   untuk membantu pemerintah bahwa dengan banyaknya kredit yang di salurkan oleh bank-bank, hal ini berarti dapat meningkatkan pembangunan disegala sector khususnya disektor ekonomi,
fungsi kredit secara luas :
1.  untuk meningkatkan daya guna uang
2.  untuk meningkatkan peredaran uang dan lalu lintas uang.
3. Untuk meningkatkan daya guna barang.
4.  Untuk meningkatkan peredaran barang.
5.  Sebagai alat stabilitas ekonomi
6. Kredit dapat mengaktifkan atau meningkatkan aktifitas-aktifitas atau kegunaan potensi-potensi.
7.  Kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional

Fungsi perjanjian kredit :
1.       Sebagai perjanjian pokok.
2.       Sebagai alat bukti mengenai batasan hak antara kreditur dan debitur,
3.       Sebagai alat monitoring kredit.

Hal hal yang di perjanjikan dalam perjanjian kredit:
1.       Jangka waktu
2.       Suku bunga
3.       Cara pembayaran
4.       Agunan/jaminan kredit
5.       Biaya administrasi
6.       Asuransi jiwa dan tagihan



Rabu, 13 Maret 2013

TUGAS 3 BAHASA INDONESIA ( ILMIAH DAN NON ILMIAH)

NAMA                     : ACHMAD ROMADHONI
KELAS                    : 3EA17
NPM                       : 10210090
MATKUL               : BAHASA INDONESIA





Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah
Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
Pertama
Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
Kedua
Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Ketiga
Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian. Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dalam artikel ini akan dibahas tentang 3 jenis karangan, yaitu: karangan ilmiah, karangan non ilmiah, dan karangan semi ilmiah. Berikut ini penjelasannya.
I. Karangan ilmiah
Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

Tujuan karya ilmiah, antara lain:
· Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
  • Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
  • Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
  • Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
  • Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
· Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
· Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
· Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
· Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
· Memperoleh kepuasan intelektual;
· Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
· Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya
II. Karangan Non Ilmiah
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
· Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
· Fakta yang disimpulkan subyektif,
· Gaya bahasa konotatif dan populer,
· Tidak memuat hipotesis,
· Penyajian dibarengi dengan sejarah,
· Bersifat imajinatif,
· Situasi didramatisir,
· Bersifat persuasif.
· Tanpa dukungan bukti
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
· Dongeng
· Cerpen
· Novel
· Drama
· Roman.
III. Karangan Semi Ilmiah
Karya tulis semi ilmiah merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan yang ditulis dengan bahasa konkret dan formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya. Karya tulis ini juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan dalam kary tulis ini. Karya tulis semi ilmiah biasanya digunakan dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.
IV. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah
Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.
2. Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3. Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat, antara lain :
1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
2. persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Simpulan
Karangan merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kumpulan-kumpulan fakta ataupun tidak dan dirangkum dalam sebuah karya tulis dengan menggunakan metode tertentu sesuai kebutuhan karangan tersebut, apakah penulis akan membuat karangan ilmiah, semi ilmiah/populer atau non ilmiah.
Karangan yang baik akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, antara lain :
1. Karangan Ilmiah Yaitu :
a. Sistematis
b. Objektif
c. Cermat, tepat, dan benar
d. Tidak persuasif
e. Tidak argumentatif
f. Tidak emotif
g. Tidak mengejar keuntungan sendiri
h. Tidak melebih-lebihkan sesuatu.
2. Karangan Semi Ilmiah/Populer :
a. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa formal dan popular
d. Mementingkan diri penulis
e. Melebihkan-lebihkan sesuatu
f. Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
g. Bersifat persuasif.
3. Karangan Non Ilmiah :
a. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa konotatif dan populer
d. Tidak memuat hipotesis
e. Penyajian dibarengi dengan sejarah
f. Bersifat imajinatif
g. Situasi didramatisir, dan
h. Bersifat persuasif.
V. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Semi ilmiah
“Kecermatan dalam berbahasa mencerminkan ketelitian dalam berpikir” adalah slogan yang harus dipahami dan diterapkan oleh seorang penulis. Melalui kecermatan bahasa gagasan atau ide-ide kita akan tersampaikan. Oleh karena itu, penguasaan bahasa amat diperlukan ketika Anda menulis.
Bahasa dalam karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa Indonesia resmi. Ciri-ciri ragam resmi yaitu menerapkan kesantunan ejaan (EYD/Ejaan Yang Disempurnakan), kesantunan diksi, kesantunan kalimat, kesantunan paragraph, menggunakan kata ganti pertama “penulis”, bukan saya, aku, kami atau kita, memakai kata baku atau istilah ilmiah, bukan popular, menggunakan makna denotasi, bukan konotasi, menghindarkan pemakaian unsur bahasa kedaerahan, dan mengikuti konvensi penulisan karangan ilmiah.
Terdapat tiga bagian dalam konvensi penulisan karangan ilmiah, yaitu bagian awal karangan (preliminaries), bagian isi (main body), dan bagian akhir karangan (reference matter).
Berbeda dengan karangan ilmiah, bahasa dalam karangan semiilmiah/ilmiah popular dan nonilmiah melonggarkan aturan, seperti menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi dan figurative, menggunakan istilah-istilah yang umum atau popular yang dipahami oleh semua kalangan, dan menggunakan kalimat yang kurang efektif seperti pada karya sastra.
Berikut perbandingan istilah ilmiah dan semi ilmiah/popular.
Kata Ilmiah
· Metode
· Prosedur
· Sahih
· Fonem
· Populasi
· Stadium
· Karbon
· Produk
· Volume
· Makro
· Paradigma
Kata Populer
· Cara
· Langkah-langkah
· Sah
· Bunyi
· Penduduk
· Tahapan
· Orang
· Hasil
· Isi
· Besar
· Pandangan

CONTOH KARANGAN NON ILMIAH

BATU GOLOG

Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain
Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.
Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.
Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: “Ibu batu ini makin tinggi.” Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, “Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk.”
Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.
Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.
Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.
Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.

Sumber tulisan:
2. http://id.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 01 April 2012
3. http://rachmandianto.blog.com/2011/05/25/tulisan-%E2%80%9Cperbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah%E2%80%9D/

TUGAS 2 BAHASA INDONESIA ( METODE ILMIAH BESERTA CONTOH KASUSNYA)

NAMA                      : ACHMAD ROMADHONI
KELAS                     : 3EA17
NPM                         : 10210090
MATKUL                 : BAHASA INDONESIA






Metode ilmiah merupakan suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama.
Metode Ilmiah memiliki ciri-ciri keilmuan, yaitu :
1. Rasional: sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia
2. Empiris: menggunakan cara-cara tertentu yang dapat diamati dengan menggunakan panca indera
3. Sistematis: menggunakan proses dengan langkah-langkah logis.
Syarat-syarat Metode Ilmiah, diantaranya :
1. Obyektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris.
2. Metodik, artinya pengetahuan ilmiah diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
3. Sistematik, artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain saling berkaitan.
4. Universal, artinya pengetahuan tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja tetapi semua orang melalui eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama.
Sifat Metode Ilmiah :
1. Efisien dalam penggunaan sumber daya (tenaga, biaya, waktu).
2. Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja).
3. Teruji (prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan).
Pola pikir dalam metode ilmiah :
1. Induktif:  Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup terbatas dalam menyusun argumentasi dan terkait dengan empirisme.
2. Deduktif: Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir silogismus dan terkait dengan rasionalisme.Langkah – langkah Metode Penelitian, diantaranya :
a. Perumusan masalah
Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika kita tertarik pada sesuatu hal.     Ketertarikan ini karena manusia memiliki sifat perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek serta dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut. Masalah yang ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah, dan umumnya rumusan masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
b. Pembuatan kerangka berfikir
Pembuatan kerangka berfikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan kerangka berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu diperoleh dari wawancara dengan pakar atau dengan pengamatan langsung.
c. Penarikan hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun hipotesis. Masalah yang dirumuskan harus relevan dengan hipotesis yang diajukan. Hipotesis digali dari penelusuran referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya.
d. Pengujian Hipotesis/eksperiment
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.
e. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Melalui kesimpulan maka akan terjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan dapat dibuktikan kebenarannya.
SIMPULAN: Metode Ilmiah sebagai wahana peneguh Ilmu Pengetahuan, dengan cara:
-Mengadakan deskripsi, menggambarkan secara jelas dan cermat hal-hal yang dipersoalkan.
-Menerangkan/Eksplanasi, menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa peristiwa/gejala.
-Menyusun Teori, mencari dan merumuskan hukum-hukum mengenai hubungan antara kondisi yang satu dengan yang lain atau hubungan peristiwa yang satu dengan yang lain.
-Membuat Prediksi/Peramalan, membuat ramalan, estimasi dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi atau gejala-gejala yang akan muncul.
-Melakukan Pengendalian, melakukan tindakan guna mengendalikan peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala.
Teori Kebenaran Ilmiah
1. Teori koherensi : pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifata koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Misalnya : setiap manusia akan mati, maka di fulan pasti akan mati.
2. Teori korespondensi : pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta, dan memang faktanya ibukota Indonesia adalah Jakarta.
3. Teori pragmatis, ialah kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau memiliki kegunaan dalam kehidupan manusia.


CONTOH KASUS METODE ILMIAH

PENGARUH PENGGUNAAN TELEPON SELULAR PADA ANAK USIA 6-11 TAHUN

DAFTAR ISI


ABSTRAK i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Landasan Teori 2
1.3. Ruang Lingkup 3
1.4. Perumusan Masalah 4
1.4.1. Research Question 4
1.4.2. Signifikansi Permasalahan 4
1.5. Tujuan Penelitian 5
BAB II RANCANGAN PENELITIAN 6
2.1. Metode Penelitian 6
2.2. Tahapan Penelitian 7
2.3. Subyek Penelitian 8
BAB III ALAT PENELITIAN 11
BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA 16
BAB V KESIMPULAN 20
REFERENSI 21


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 – Contoh Hasil Masukkan DataMentah 17
Gambar 2 – Lanjutan Contoh Hasil Masukkan Data Mentah 17
Gambar 3 – Contoh Hasil Transformasi Data 18
Gambar 4 – Lanjutan Contoh Hasil Transformasi Data 18
Gambar 5 – Lanjutan Contoh Hasil Transformasi Data 19




BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


Dewasa ini penggunaan telepon selular tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif di kalangan masyarakat luas. Hal ini merupakan dampak dari keperluan berkomunikasi yang semakin mendesak dan harga telepon selular yang semakin murah. Namun, hal yang menarik dari kenyataan ini adalah penggunaan telepon selular yang sudah merebak di kalangan anak-anak, sehingga timbul pertanyaan apakah mereka perlu alat komunikasi yang bermobilitas tinggi tersebut. Selanjutnya timbul wacana yang cenderung negatif menanggapi pertanyaan tersebut, misalnya mereka (anak-anak) dinilai “ikut-ikutan” terhadap tren saja, sedangkan tidak terlihat mereka membutuhkan telepon selular itu dari segi fungsionalnya.
Banyak hal yang dapat diperhatikan dari fenomena ini. Misalnya adalah jika dilihat dari segi sosial, kesenjangan akan sangat terlihat antara anak yang berasal dari keluarga mampu secara finansial dan yang tidak dalam suatu komunitas di sekolahnya. Penggunaan telepon selular secara tidak langsung juga dinilai dapat mempengaruhi lingkungan pergaulan anak-anak.
Sedangkan jika kita lihat dari segi positifnya, misalnya tumbuhnya kesadaran anak untuk bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan oleh orang tua untuk menggunakan dan merawat barang berharga, dapat menjadi salah satu parameter perkembangan psikologinya. Dininya usia anak diperkenalkan terhadap teknologi juga dapat dinilai suatu dampak yang sangat positif, karena dengan demikian mereka dapat secara kreatif mengenal fitur-fitur tertentu serta dapat langsung menggunakannya.
Dengan adanya beberapa pandangan terhadap fenomena tersebut, kami tertarik untuk mengadakan suatu penelitian. Kami berharap dapat menarik suatu kesimpulan berlandaskan teori atau ilmu terkait serta informasi yang kami dapat pada saat penelitian berupa karakteristik anak yang ditinjau dari segi tingkah lakunya.

1.2. Landasan Teori

Dalam studi mengenai perkembangan manusia (human development), ada beberapa teori yang ditilik dari ilmu psikologi. Masing-masing teori menekankan pada aspek pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda, akan tetapi semua teori yang ada mengandung garis merah yang sama yaitu menelaah tentang pengertian perkembangan manusia dari sejak dilahirkan, masa kanak-kanak, hingga masa dewasa. Teori-teori tersebut adalah Psikologi Kognitif, Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik. Fokus dari penelitian ini diarahkan pada tingkah laku anak yang memiliki telepon genggam. Oleh karena itu teori yang kami anggap relevan untuk dijadikan landasan dalam melakukan penelitian ini adalah teori Behaviorisme.
Dalam teori Behaviorisme dijelaskan bahwa perkembangan perilaku individu selalu mengikuti aturan stimulus – response [PAP98]. Stimulus dapat diartikan sebagai hal yang memicu individu untuk berbuat sesuatu, sedangkan response merupakan reaksi terhadap pemicu/stimulus yang membentuk perilaku dari individu yang bersangkutan. Individu tidak dianggap berperan dalam menentukan perilakunya, karena tingkah laku (respon) memerlukan pengkondisian (stimulus) sebagai pemicu. Tingkah laku tersebut dapat pula tumbuh dari hasil pengamatan lingkungan sekitar.
Popularitas dianggap sesuatu yang penting bagi seorang anak pada masa pertumbuhan khususnya pada masa pertengahan kanak-kanak (dalam teori kognitif pada usia 7-11 tahun/tahap konkret operasional atau dalam teori psikoanalisa pada masa sekolah dasar). Popularitas yang dimaksud bukanlah terbatas pada ketenaran seorang anak dikalangan teman-temannya karena dia adalah seorang public figure, tetapi lebih merupakan pendapat sekelompok anak dalam menerima seorang anak dikalangannya. Hal ini penting karena pada masa itu seorang anak cenderung harus menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak lain dan sangat terpengaruh oleh pendapat dari sekelompok anak-anak tersebut [TUR83].
Anak-anak yang populer biasanya memiliki kemampuan berpikir kognitif yang baik, sudah dapat menyelesaikan masalah sosial dengan baik, ringan tangan terhadap anak-anak lain dan sudah dapat menempatkan diri disuatu lingkungan (asertif) [HUI03]. Dilain pihak, anak-anak yang tidak populer memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang kurang baik, dalam arti kurang luwes dalam bergaul.
Popularitas dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
• Keluarga dan budaya
Sebuah keluarga adalah satuan masyarakat terkecil dimana salah satu fungsinya adalah mendidik. Orang tua yang mendidik anak secara demokratis cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik pada anak-anaknya dibandingkan orang tua yang mendidik secara otoriter 1). Kebudayaan di lingkungan anak dibesarkan mempengaruhi popularitas dari segi karakteristik/sifat yang dimiliki seorang anak untuk dikatakan populer atau diterima oleh anak-anak lain.
• Teman atau persahabatan
Teman adalah seseorang dimana seorang anak merasa nyaman berada didekatnya, melakukan sesuatu bersamanya dan memiliki hubungan memberi-menerima. Persahabatan dimulai dengan pilihan, anak-anak cenderung mencari/memilih teman yang sebaya dan memiliki minat untuk dijadikan sahabat. Melalui hubungan dengan teman-teman atau persahabatan, anak-anak belajar cara berkomunikasi, bekerja sama dan mengontrol emosi mereka serta membantu mereka membangun percaya diri.
Berdasarkan karakteristik perkembangan anak yang dipaparkan diatas, kepemilikan telepon selular oleh anak berkaitan dengan perkembangan psikologisnya khususnya dalam mengembangkan kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi serta keinginan untuk diterima di pergaulannya (popularitas). Kreativitas, ego serta kondisi lingkungan (apakah teman-temannya mempunyai telepon selular) secara psikologis dapat memicu seorang anak untuk memiliki telepon selular.

1.3. Ruang Lingkup Sesuai dengan topik, unit analisis dari penelitian ini adalah individu, yaitu anak-anak usia 6-11 tahun (anak-anak pada usia sekolah SD) yang memiliki telepon genggam. Dalam melakukan penelitian ini kami menggunakan sudut pandang psikologi behaviorisme atau perilaku seorang anak untuk melihat pengaruh dari kepemilikan telepon selular.

1.4. Perumusan Masalah 1.4.1. Research Question
Dalam melakukan penelitian, teori ini menekankan keobjektifan peneliti dalam melihat perilaku individu yang diamati (responden) yang mana datanya diperoleh dari hasil pengamatan terhadap perasaan, prasangka, selera, pikiran, pengalaman dan pendapat pribadi responden [MOR98]. Kami menjadikan kepemilikan telepon genggam sebagai stimulus dan perilaku anak setelah memiliki telepon genggam sebagai response-nya. Penelitian ini juga akan memperhatikan faktor kondisi/perilaku anak sebelum memiliki telepon genggam.
Dari penjelasan di atas, maka kami menentukan research question dari penelitian ini, yaitu:
Apa pengaruh yang ditimbulkan dari kepemilikan telepon selular pada perilaku anak usia 6 - 11 tahun?

1.4.2. Signifikansi Permasalahan
Terdapat beberapa pandangan mengenai penggunaan telepon genggam pada anak yang terkadang dinilai berdasarkan suatu opini yang belum tentu objektif, untuk itu dibutuhkan suatu pembahasan wacana yang objektif kepada masyarakat luas bahwa penggunaan teknologi seperti telepon selular dapat menimbulkan dampak terhadap psikologi anak-anak.
Pikiran seorang anak bukanlah sebuah versi miniatur dari pikiran orang dewasa [HUI03]. Pikiran orang dewasa merupakan hasil perkembangan dari kognitif pada masa kanak-kanak melalui proses belajar, mengamati, kemudian menyimpannya sebagai pengetahuan di otak. Hal ini bukan menjadi objek penelitian kami melainkan hanya sebagai landasan pendukung pentingnya penelitian ini, yaitu bahwa pemikiran yang kemudian memicu tingkah laku pada manusia dewasa dibentuk dari perkembangan pada masa sebelumnya (termasuk masa kanak-kanak).
Hasil dari penelitian ini dapat dikontribusikan untuk untuk menambah wawasan keilmuan tentang psikologi anak dalam bentuk suatu laporan hasil penelitian.
1.5. Tujuan Penelitian
Perkembangan anak usia 6-11 tahun merupakan bahan pertimbangan kami dalam melaksanakan penelitian ini. Interval usia tersebut merupakan masa dimana seorang anak mengembangkan kemampuan/sifat berikut [ERK03] :
1. Menyusun, membuat dan menyelesaikan sesuatu.
2. Menerima perintah/instruksi yang sistematis, seperti halnya pada pengenalan dasar-dasar teknologi.
3. Sensitif terhadap sifat kurang percaya diri dan rendah diri terhadap kemampuan/apa yang dimiliki dan statusnya diantara teman-teman sebaya.
4. Menentukan sesuatu yang terkait dengan interaksi sosialnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi karakteristik tingkah laku anak usia 6–11 tahun setelah memiliki telepon genggam. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya perilaku di sini bersifat bebas dan bersifat unik bagi setiap anak. Sehingga apabila tujuan penelitian ini dibagi menjadi beberapa bagian, maka akan terdiri dari :
a. Mencari pandangan yang objektif mengenai pengaruh pemakaian telepon selular pada objek penelitian yaitu anak-anak berusia 6-11 tahun.
b. Menyelidiki pengaruh pemakaian telepon selular pada perilaku anak-anak, sikap dan reaksi mereka terhadap penggunaan teknologi dalam kehidupan mereka.
c. Menyelidiki pengaruh pemakaian telepon selular pada sikap dan pola pergaulan dari anak-anak tersebut.

BAB II
RANCANGAN PENELITIAN

Perancangan penelitian dilakukan agar penelitian dapat menjawab pertanyaan yang telah ditentukan pada tahapan sebelumnya. Berikut rancangan penelitian yang terdiri dari metode penelitian, tahapan penelitian serta subyek penelitian yang meliputi unit analisis, populasi, sampel, variabel penelitian, sampling frame dan teknik sampling.

2.1. Metode Penelitian
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa penelitian kami adalah penelitian eksploratif, bukan deskriptif. Sebelum melakukan penelitian eksploratif ini, terlebih dahulu kami menentukan pendekatan metode penelitian seperti apa yang dibutuhkan. Metode penelitian dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu experiment, survey, field research, dan secondary research. Experiment merupakan pendekatan penelitian untuk menyelidiki sebab dari suatu fenomena dengan cara menciptakan dua kondisi yang yang berbeda pada satu objek yang sama, misal menyelidiki apakah penggunaan internet mempengaruhi kinerja seseorang dengan menciptakan dua kondisi yaitu kondisi orang yang bekerja dengan internet dan yang bekerja tanpa internet. Survey merupakan pendekatan penelitian untuk mencari fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dari suatu grup populasi, dengan menggunakan alat seperti kuisioner atau wawancara. Field research merupakan metode penelitian untuk memperoleh informasi dan pengetahuan dari suatu objek secara langsung tanpa perantara, misal meneliti kehidupan suku badui di pedalaman dibandingkan dengan badui yang tinggal di daerah kota dengan cara terjun ke lapangan (seperti tinggal dengan orang badui di pedalaman untuk satu waktu tertentu sambil meneliti kehidupan mereka). Pendekatan yang keempat adalah secondary research, yaitu pendekatan penelitian dengan menggunakan data-data yang sudah ada seperti dokumen tertulis, lukisan, dsb.
Dari keempat definisi yang telah dijelaskan tersebut, kami lebih memilih menggunakan pendekatan survey. Kami mempunyai beberapa alasan, antara lain:
a. Kami ingin melakukan eksplorasi pengaruh yang ditimbulkan dari pemakaian telepon selular terhadap perilaku suatu populasi, yaitu populasi anak berusia 6-11 tahun.
b. Kami lebih fokus satu kondisi, yaitu kondisi anak-anak 6-11 tahun yang menggunakan telepon selular.
c. Untuk memperoleh data-data tidak membutuhkan waktu yang yang lama (tidak seperti field research).
d. Murah, karena untuk penelitian ini kami menggunakan wawancara dan untuk melakukan wawancara tidak membutuhkan alat bantu yang banyak dan mahal, cukup dengan menggunakan kertas.

2.2. Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Penentuan Topik Penelitian
2. Studi Literatur
Pada tahapan ini dilakukan penelaahan literatur berdasarkan topik yang telah ditentukan untuk mendapatkan landasan teori bagi penelitian yang akan dilakukan. Selain itu juga dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini dari topik penelitian.
3. Formulasi Masalah
Pada tahapan ini dilakukan identifikasi:
§ Permasalahan penelitian yang bertujuan untuk meletakkan dasar dalam melakukan penelitian.
§ Ruang lingkup penelitian yang bertujuan untuk mentransformasikan topik penelitian ke dalam sesuatu yang bisa dikelola, disesuaikan dengan kemampuan dan batasan-batasan sumber daya yang ada.
§ Pertanyaan penelitian yaitu permasalahan penelitian yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
§ Tujuan penelitian adalah apa yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan.
4. Perancangan Penelitian
Tahapan ini dilakukan sebagai perencanaan untuk mendapatkan kesimpulan dari pertanyaan penelitian yang telah dibuat.
Pada tahapan ini dilakukan:
§ Penentuan metode penelitian.
§ Penentuan subyek penelitian yang meliputi unit of analysis, populasi, sampel, serta variabel-variabel yang mempengaruhi penelitian.
§ Penentuan sampling frame, yaitu cara pengambilan sampel dari populasi yang telah ditentukan, serta teknik sampling yang digunakan.
§ Terakhir adalah menentukan metode pengumpulan data serta alat yang akan digunakan dalam pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sesuai sehingga dapat memenuhi tujuan penelitian.
5. Pengumpulan Data
Pada tahapan ini dilakukan pengambilan data dari sampel yang telah ditentukan dengan menggunakan alat penelitian yang telah ditentukan, serta administrasi data sehingga mudah untuk dianalisa.
6. Analisa Data
Pada tahapan ini, data yang telah dikumpulkan akan dianalisa dan diolah untuk menjawab pertanyaan penelitian dan memenuhi tujuan penelitian.
7. Kesimpulan
Dari hasil analisa data yang telah dilakukan dalam tahapan sebelumnya, diambil kesimpulan yang bersifat exploratory untuk menjawab pertanyaan penelitian.

2.3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian, yang meliputi unit analisis, populasi, sampel, variabel penelitian, sampling frame serta teknik sampling, dalam penelitian ini adalah:
a. Unit Analisis
Unit analisis adalah suatu unit atau entitas yang hendak diteliti atau dianalisa. Pada penelitian kami, unit analisis yang ditentukan adalah individu anak. Secara khusus, individu anak yang akan diteliti adalah berusia 6 – 11 tahun yang telah memilik telepon selular. Kami akan meneliti masing-masing individu anak sehubungan dengan kepemilikan telepon selular.
b. Populasi
Populasi adalah sekumpulan unit analisis yang menjadi subyek penelitian. Populasi pada penelitian kami adalah anak usia 6 – 11 tahun yang telah menggunakan telepon selular.
c. Sampel
Dalam penelitian ini, salah satu variabel yang digunakan adalah sekolah anak. Kami akan mengambil sampel dari 5 sekolah dasar di Jabotabek dengan 10 orang anak dari masing-masing sekolah. Dengan sampel yang berasal dari sekolah yang berbeda, kami berharap untuk dapat menganalisa pengaruh lingkungan sekolah dengan kepemilikan telepon selular pada anak. Pada penelitian ini, jumlah sampel yang diambil yaitu 50 sampel. Hal ini dilakukan agar penelitian dapat dikelola dengan baik sesuai dengan kapasitas tim peneliti dan tidak memakan biaya terlalu besar. Diharapkan jumlah ini cukup representatif untuk penelitian ini.
d. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu entitas yang dapat memiliki nilai yang berbeda. Terdapat beberapa macam variabel, yaitu dependent variables, independent variables, antecedent variables, intervening variables, controlled variables, uncontrolled variables, qualitative variables, serta quantitative variables.
Pada penelitian kami, variabel-variabel yang kami tentukan antara lain :
1. Dependent variable : perilaku anak (behaviorism).
2. Independent variable : kepemilikan telepon selular.
3. Controlled variable : asal sekolah anak dan kelas.
e. Sampling Frame
Sampling Frame adalah cara mengambil sampel dari populasi yang telah ditentukan di atas. Untuk mengambil sampel dari populasi, tidak terdapat daftar anak sekolah yang menggunakan telepon selular, sehingga dibutuhkan suatu rules atau aturan untuk menguji apakah calon responden termasuk ke dalam target populasi.
Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam menentukan sampling frame :
• mendaftar semua kasus atau item.
• menentukan suatu aturan untuk diterapkan pada masing-masing kasus atau item.
• masing-masing kasus dihadapkan pada aturan tersebut untuk menentukan masuk atau tidaknya kasus atau item tersebut dalam sampel penelitian.
Pada penelitian ini kami akan menerapkan langkah-langkah tersebut sebagai berikut :
• kasus-kasus yang ada dalam populasi penelitian kami adalah semua anak usia 6 - 11 tahun.
• aturan yang akan kami terapkan dalam menentukan sampling frame ini adalah anak usia 6 – 11 tahun dan memiliki telepon selular.
• aturan yang ada kemudian diterapkan pada semua kasus penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa yang masuk ke dalam sampling frame kami anak usia 6 – 11 tahun yang memiliki telepon selular. Sebaliknya, untuk kasus anak usia 6 – 11 tahun yang tidak memiliki telepon selular tidak masuk ke dalam sampling frame ini.
f. Teknik Sampling
Terdapat dua macam teknik sampling, yaitu Probability Sampling dan Non-Probability Sampling. Pada penelitian ini kami menggunakan Non-Probability Sampling. Non-Probability Sampling adalah pemilihan sampel yang tidak dilakukan secara acak. Kami memilih untuk menggunakan Nonprobability Sampling karena teknik ini cocok digunakan dalam penelitian yang bersifat eksploratif seperti penelitian kami.
Jenis Nonprobability Sampling yang akan kami gunakan adalah Quota Sampling. Dan kami memilih untuk menggunakan Quota Sampling karena dalam penelitian ini kami akan membagi sampel yang kami butuhkan menjadi beberapa kelompok, yaitu berdasarkan sekolah anak.

BAB III
ALAT PENELITIAN


Pemilihan alat penelitian sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik responden. Untuk itu yang harus kami gali terlebih dahulu keterangan tentang karakteristik responden. Dari segi interval usia yaitu 6 – 11 tahun, responden tergolong anak-anak. Sehingga dari pengetahuan ini kami mengambil beberapa asumsi, yaitu:
• Responden sulit untuk berkonsentrasi terhadap formulir
• Responden membutuhkan penjelasan terhadap setiap pertanyaan
• Responden memerlukan stimulus dari pewawancara untuk memberi tanggapan dan tetap berkonsentrasi
Dengan mempertimbangan beberapa asumsi diatas, metode penelitian survei dengan wawancara dinilai paling sesuai. Wawancara akan dilakukan secara tatap muka yang mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah pewawancara dapat meningkatkan tingkat kerjasama serta memungkinkan responden mendapat klarifikasi secepatnya [WAK00]. Untuk membangun ketertarikan responden untuk melakukan wawancara, kami merasa diperlukannya semacam insentif bagi responden.
Wawancara yang dilakukan bersifat semistructure, dimana pewawancara memiliki pedoman dalam melakukan wawancara. Namun, pewawancara tidak membatasi pilihan jawaban dan tidak mendeskripsikan jenis jawaban. Wawancara akan dilakukan dengan open-ended question, hal ini kami lakukan karena sifat dari penelitian yang eksploratif sehingga diharapkan memperoleh penjelasan yang sebanyak-banyaknya.
Untuk mendukung wawancara ini diperlukan alat perekam (merekam wawancara), alat tulis serta alas tulis untuk mencatat beberapa hal penting pada waktu wawancara terjadi.
Wawancara dimulai dengan pembukaan (opening) oleh pewawancara. Pada pembukaan tersebut dijelaskan kepada responden tujuan dari wawancara, yaitu untuk mendapatkan data penelitian mengenai pengaruh telepon selular terhadap anak usia 6-11 tahun. Karena responden penelitian ini adalah anak usia 6-11 tahun, maka pewawancara sebaiknya menggunakan kata-kata serta kalimat-kalimat yang mudah dimengerti oleh mereka. Selanjutnya, pewawancara dapat mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun. Untuk menarik minat responden dalam melakukan wawancara ini, pewawancara memberikan insentif kepada responden sesaat setelah pembukaan wawancara dilakukan.
Berikut ini adalah alat penelitian yang berupa daftar pertanyaan yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan wawancara.

1. Sejak kapan menggunakan telepon selular?
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui independent variable penelitian, yaitu kepemilikan telepon selular. Sebagai pertanyaan awal yang bertujuan mengetahui apakah ada perbedaan antara responden yang sudah lama menggunakan telepon selular dan responden yang belum lama menggunakan telepon selular, apabila ada perbedaan akan terlihat pada jawaban dari pertanyaan – pertanyaan berikutnya.

2. Latar belakang pergaulan, asal sekolah? Apakah teman-temannya juga memiliki telepon selular?
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian, yaitu perilaku anak (responden). Sebagai pertanyaan awal yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan responden yang berasal dari lingkungan mayoritas pengguna telepon selular dengan lingkungan responden yang tidak memiliki telepon selular berdasarkan pertanyaan-pertanyaan wawancara yang lain. Pewawancara harus mencari tahu proporsi teman responden yang meiliki telepon seluler. Proporsi dilihat terhadap lingkungan sekolah, tempat tinggal dan terbatas pada anak usia sebaya.

3. Alasan memiliki telepon selular, apakah permintaan sendiri atau diberi oleh orang tua? Jika permintaan sendiri kemukakan alasannya!
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui dependent variabel penelitian. Bertujuan untuk mengetahui apakah alasan untuk memiliki telepon selular berasal dari responden (anak) atau orang tua responden. Apabila alasan tersebut berasal dari responden maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah mengeksplorasi alasan-alasan tersebut untuk mengetahui lebih dalam perilaku responden.

4. Merasa mendapatkan manfaat dengan memiliki telepon selular? Jika ya, apa manfaatnya?
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui dependent variabel penelitian. Bertujuan untuk mengetahui apakah responden mereasa mendapat manfaat dengan memiliki hp. Apabila ya, maka tujuan selanjutnya adalah mengeksplorasi manfaat-manfaat tersebut untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang dirasakan responden, serta apakah manfaat tersebut positif atau negatif.

5. Apakah ada pengawasan dari orang tua dalam penggunaan telepon selular? Jika ada seperti apa?
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui dependent variabel penelitian. Digunakan untuk mengetahui dampak dari ada tidaknya pengawasan dari orang tua terhadap perilaku responden yang berkaitan dengan penggunaan telepon seluler.

6. Teknologi telepon selular apa saja yang biasa digunakan? Telepon, sms, games, fitur-fitur lain, atau jarang digunakan sesuai fungsinya hanya untuk gengsi, gaya hidup, pergaulan?
Digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Pertanyaan disini bertujuan untuk mendapat data apakah telepon selular tersebut digunakan semaksimal mungkin sesuai dengan fitur-fitur yang ada dalam telepon selular, atau hanya digunakan untuk fungsi yang minim (telepon, sms) walaupun hp memiliki fitur yang cukup bervariasi, dan lebih diutamakan untuk gaya hidup saja.

7. Setelah memiliki telepon selular, apakah kepercayaan diri lebih meningkat atau tidak? Jika ya, seperti apa?
Digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Untuk mengetahui apakah dengan memiliki telepon selular responden merasa ada peningkatan percaya diri.

8. Setelah memiliki telepon selular, apakah pergaulannya menjadi lebih luas atau malah lebih sempit hanya dalam kelompok yang memiliki telepon selular saja?
Digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Untuk mengetahui apakah dengan memiliki telepon selular pergaulan responden menjadi lebih luas atau sebaliknya hanya bergaul dengan kelompok yang memiliki telepon selular saja.
9. Cara menyimpan atau memelihara telepon selular seperti apa? Serta pernah rusak atau tidak?
Digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui tanggungjawab responden terhadap telepon selular yang dimilikinya, salah satunya dilihat berdasarkan cara responden menyimpan atau memelihara telepon selular tersebut.

10. Pernah ganti telepon selular? Jika ya, seberapa sering dan alasannya? Apakah karena mengikuti perkembangan mode/teknologi atau karena rusak?
Untuk mengetahui dependent variable penelitian. Pertanyaan ini bertujuan untuk mengetahui alasan responden yang pernah berganti telepon selular. Setelah mengetahui alasannya maka akan diselidiki apakah alasan tersebut adalah alasan konsumtif (mengganti telepon selular karena mengikuti mode) atau alasan hilang/rusak (kurang tanggungjawab), atau alasan-alasan lain, misalnya mengikuti perkembangan teknologi.

11. Menggunakan telepon selular kapan dan dimana?
Digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Bertujuan untuk mengetahui kesadaran responden terhadap etika dalam menggunakan telepon selular. Responden tahu dimana tempat yang tepat untuk menggunakan telepon selular, tidak dipakai sembarangan seperti di dalam kelas pada saat pelajaran atau pada tempat-tempat umum lainnya.

12. Mengikuti teknologi dan fitur-fitur yang tersedia pada telepon selular?
Untuk mengetahui dependent variable penelitian. Bertujuan untuk mengetahui apakah dengan kepemilikan telepon selular responden perkembangan teknologi pada telepon selular seperti Multimedia Message Service (MMS), Wireless Access Protocol (WAP), (General Packet Radio Service) GPRS, bahkan bluetooth.

13. Telepon selular digunakan untuk keperluan apa saja?
Untuk mengetahui perbandingan tingkat kebutuhan dan pengeluaran akibat penggunaan telepon selular.

14. Kira-kira, jika tahu, berapa besar pemakaian pulsa telepon selular tiap bulannya?
Pertanyaan ini digunakan untuk mengetahui dependent variable penelitian. Diarahkan untuk mengetahui rata-rata pemakaian telepon selular dalam kurun waktu tertentu.

15. Boros dalam penggunaan telepon selular menurut mereka? (Disesuaikan dengan latar belakang kehidupan mereka, misalnya. menurutmu boros menggunakan telepon selular itu pada penggunaan pulsa hingga berapa besar?)
Pertanyaan ini digunakan sebagai parameter untuk mengelompokkan responden pada karakteristik boros atau tidak. Pengelompokkan ini disesuaikan dengan gaya hidup responden tersebut. Tingkat keborosan tersebut ditentukan oleh responden sendiri (apakah responden dengan menghabiskan sejumlah pulsa merasa dirinya boros atau tidak), sehingga peneliti dapat mengetahui sebatas mana pengertian dan penghargaan responden terhadap materi/uang.


BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Dalam suatu penelitian, proses yang dilakukan belum cukup bila berhenti sampai pengumpulan data saja. Data yang telah didapat selanjutnya perlu diolah yang akhirnya dapat memberikan informasi berupa cerminan dari data tersebut. Untuk itu perlu dilakukan analisa data.
Analisa data pada kasus ini diterapkan pada open-ended question saja. Alasannya adalah karena tujuan penelitian yang dilakukan bersifat exploratory. Sehingga dalam hal ini tidak menggunakan fungsi-fungsi statistik untuk menganalisa data, melainkan menggunakan fungsi-fungsi matematika sederhana yang terdapat pada Microsoft Excel® XP dan disajikan dalam bentuk skema atau tabulasi.
Adapun tahapan dalam melakukan analisa yang telah disesuaikan, sebagai berikut:
§ Persiapan data alat analisa
o Menentukan kolom-kolom jawaban yang didapat dari hasil wawancara.
o Nama kolom ditentukan bersamaan dengan pemeriksaan data hasil wawancara.
o Pembuatan kolom pada Excel® dan pemetaan jawaban pada kolom yang sesuai
§ Transformasi Data
o Tidak semua data mentah akan dianalisa, melainkan melalui proses transformasi berdasarkan asumsi.
o Misalnya, responden yang menyimpan telepon selulernya di tas jika ia di sekolah dan memindahkannya ke meja belajar, maka diasumsikan responden cukup hati-hati dalam memelihara telepon selulernya.
§ Statistik Deskriptif
o Distribusi, setelah dilakukan pemetaan jawaban terhadap kolom yang sesuai, dihitung frekuensi untuk masing-masing kolom.
o Central tendency, setelah didapat distribusi, selanjutnya dilakukan kalkulasi kolom mana saja yang paling banyak dipilih (dijawab).
§ Pada akhirnya dilakukan penjabaran informasi dengan maksud memberikan penjelasan tentang keadaan atau pengaruh penggunaan telepon selular pada anak usia 6-11 tahun.
Secara umum, ada empat tipe jawaban dari responden, hasil wawancara dengan pertanyaan yang bersifat open-ended, yaitu:
§ Jawaban tidak sesuai dengan isu yang dilontarkan
§ Komentar yang negatif dan positif terhadap asumsi-asumsi dari pertanyaan
§ Jawaban yang bersifat umum
§ Jawaban yang bersifat spesifik
Analisa data dilakukan terhadap tipe jawaban dua terakhir saja. Adapun lembar analisa data diolah menggunakan Microsoft Excel®. Contoh hasil masukan beberapa data dapat dilihat pada Gambar 1 – Gambar 2. Nama kolom sesuai dengan tiap pertanyaan yang telah dijelaskan diatas.


Gambar 1 – Contoh Hasil Masukan DataMentah


Gambar 2 – Lanjutan Contoh Hasil Masukan Data Mentah

Setelah melalui proses transformasi data, maka tiap jawaban diklasifikasi berdasarkan common sense peneliti untuk mempermudah proses analisa serta pengambilan kesimpulan.


Gambar 3 – Contoh Hasil Transformasi Data


Gambar 4 – Lanjutan Contoh Hasil Transformasi Data


Gambar 5 – Lanjutan Contoh Hasil Transformasi Data

Pada baris paling tabel diatas terdapat frekuensi jawaban pada kolom yang sama. Hal ini sangat berguna untuk membantu dalam melakukan penjabaran pengaruh penggunaan telepon selular pada anak pada interval usia 6-11 tahun. Nama kolom pada baris teratas adalah pertanyaan terhadap responden sedangkan nama kolom pada baris dibawahnya adalah variasi jawaban responden. Jadi nama kolom pada baris kedua tidak bersifat tetap melainkan tergantung dari jawaban responden. Sebagai contoh jika jawaban terhadap pertanyaan ”Keperluan apa?” ada tiga yang berlainan, berarti kolom dibawah ”Keperluan apa?” juga bertambah dari dua menjadi tiga kolom.
Setelah melakukan proses pemasukan data dan memperoleh statistik deskriptifnya, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan narasi berupa penjabaran pengaruh terhadap penggunaan telepon selular pada anak pada interval usia 6-11 tahun. Penjabaran ini mencakup hal-hal yang cukup menjadi perhatian saja dan mengarah pada karakteristik anak pengguna telepon selular, misalnya ternyata biaya Rp. 200.000 paling banyak menjadi jawaban atau ternyata mereka sangat sadar akan datangnya teknologi baru seperti Bluetooth.



BAB V
KESIMPULAN


Merebaknya kepemilikan telepon genggam oleh anak-anak usia 6-11 tahun menimbulkan pertanyaan apakah mereka benar-benar memerlukan alat komunikasi tersebut. Dari pertanyaan itu timbullah research question berikut: “Apa pengaruh yang ditimbulkan dari kepemilikan telepon selular pada perilaku anak usia 6 - 11 tahun?”.

Hal-hal yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut :
1. Karakteristik tingkah laku anak dapat diperoleh dari hasil pengamatan terhadap perasaan, prasangka, selera, pikiran, pengalaman dan pendapat pribadi responden
2. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Metode ini dianggap sesuai untuk mengupas karakteristik subyek penelitian. Selain itu, dengan menggunakan metode survey dapat menghemat waktu dan biaya karena dalam hal ini alat penelitian yang dibutuhkan adalah daftar pertanyaan kuesioner.
3. Non-Probability Sampling dengan jenis quota sampling dipilih sebagai teknik pengambilan sampel, karena cocok untuk penelitian yang bersifat eksploratif dan kami membagi sampel menjadi beberapa kelompok berdasarkan asal sekolah.
4. Analisa data dilakukan terhadap dua tipe jawaban yaitu jawaban yang bersifat umum dan jawaban yang bersifat spesifik.
5. Rumusan penelitian yang terdapat pada laporan ini diharapkan dapat dijadikan acuan pada saat melakukan penelitian.



REFERENSI


[ERK03] Erikson, E. (2003). Child Development: Erikson's Latency Stage Retrieved November 12, 2003. Web Site : http://www.childstudy.net/late-erk.html

[HUI03] Huitt, W. & Hummel, J. Cognitive Development. Retrieved June 5, 2003. Web Site : http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/cogsys/piaget.html

[MOR98] Moore, J. (1998). Behaviorism Tutorial Part 2: The First Phase of the Behavioral Revolution: Classical S-R Behaviorism. Retrieved November 12, 2003. Web Site : http://psych.athabascau.ca/html/Behaviorism/Part1/sec2.shtm

[PAP98] Papalia, D. & Wendkos, S. (1998). Human Development 7th Edition. MacGraw Hill.

[TUR83] Turner, J. & Helms, D. (1983). Lifespan Development. Holt Saunders

[WAK00] Waksberg, J. (2000) What Is a Survey? American Statistical Association. Retrieved November 12, 2003 Web Site : http://www.amstat.org/sections/srms/whatsurvey.html